Advertisement :

Pengunjung

Belanja Mainan Murah :


Mainan Magic Car
Mainan Magic Car
Mainan Magic Car
Mainan Magic Car
Mainan Magic Car

Gabung Info Dunia Ibu

Jangan ragu gunakan obat generik

 

Tetap manjur dan murah

obat generik

obat generik

Sering kali banyak orang memandang sebelah mata terhadap obat generik. Obat generik pun kerap dicap obat bagi kaum tak mampu. Betulkah asumsi ini? Timbulnya asumsi ini disebabkan kurangnya informasi mengenai obat generik. Padahal, selain harganya lebih murah, kemanjuran obat generik pun tak kalah dengan obat originator atau biasa dikenal dengan sebutan obat paten. Itu sebabnya buang rasa gengsi dan jangan ragu memakai obat generik.

Obat originator atau dikenal orang dengan obat paten (padahal hak patennya terkadang sudah lewat) adalah obat yang diciptakan melalui proses penemuan dan pengembangan. Proses pembuatannya melalui tahapan-tahapan sintesis, screening, uji preklinik, uji klinik dan review otorisasi sebelum akhirnya boleh dipasarkan.

Sementara obat generik adalah obat yang mengkopi obat originator/inovator tanpa melalui proses penemuan yang sama. Itu sebabnya diberi nama generik. Meski begitu, persamaan utama di antara keduanya adalah dalam zat aktif, dosis, indikasi, dan bentuk sediaan. Lebih mudahnya, obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalty. Ada dua jenis obat generik, yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya.

Penemuan dan pengembangan obat baru memerlukan waktu yang panjang dan biaya yang sangat mahal, sehingga waktu yang exclusivity yang relatif singkat (sekitar lima tahun) obat originator dijual dengan harga mahal untuk menutup biaya pengembangan yang mahal itu. Kata Prof Dra Arini Setiawati. Ketua Departemen Farmakologi Dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam talkshow mengenai Obat Originator vs Obat Generik di kantor Sanofi Aventis Pulomas, Jakarta Timur.

Sejak formula obat paten ditemukan hingga dipasarkan, rata-rata dibutuhkan antara 12-15 tahun. Biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 900 juta dolar AS hingga 1,8 miliar dollar AS atau berkisar Rp. 8,1 triliun sampai Rp. 17 triliun ( kurs 1 dolar AS = Rp. 9.100 ). biaya itu termasuk pembuatan obat-obatan yang gagal. Perlindungan paten yang diberikan 17-20 tahun. Namun berlaku surut sejak ditemukan, sehingga eksklusif sebelum paten berakhir jadi singkat, sekitar lima tahun.

Masa eksklusif itu dapat diperpanjang jika melakukan studi ditambah enam bulan. Biaya yang besar itu, kata Arini, mau tidak mau dibayar oleh konsumen yang harus mengeluarkan harga mahal untuk obat tersebut.

Untuk apa saja dan Rp. 8,1-17 triliun itu? Arini menguraikan sejak penemuan obat ditambah uji preklinik dibutuhkan rata-rata 6,5 tahun,. Untuk uji preklinik dilakukan pada roden (mencit, tikus) dan non roden (anjing, monyet).

Setelah uji preklinik, dilakukan uji klinik yakni uji pada manusia. Uji ini merupakan yang paling lama dalam proses pengembangan obat, sampai 10 tahun (rata-rata 6-7 tahun) dan menggunakan 60 persen dari seluruh biaya pengembangan.Dan akhirnya agar lolos dari FDA (Food and Drug Administration) butuh waktu dua tahun.

Kandungan sama

Lalu bagaimana dengan obat generik? Obat generik memiliki persamaan dengan obat originator dari zat aktif yang di kopi lalu dosis, indikasi dan bentuk sediaan (sama-sama tablet atau suntikan).

Kenapa produsen obat mau menjadikan obat originator, yang yang butuh biaya dan waktu dari penemuannya, menjadi obat generik yang lebih murah? penyebabnya adalah hak paten obat originator sudah berakhir sehingga bisa diproduksi masal dengan mengkopi zat aktifnya. Perbedaan antar obat inovator dan organik adalah dari bahan-bahan tidak aktifnya (zat pendukung dari obat itu).

Selain itu juga pada warna, rasa dan kemasan yang mungkin berbeda sesuai dengan undang-undang merek dagang (trademark), harga obat generik menjadi murah sekali dibandingkan dengan obat originatornya karena tidak perlu riset penemuan dan pengembangan obat yang sangat mahal. Yang diperlukan hanya riset formulasi agar kadar dalam darahnya atau disolusinya sebanding dengan obat originatornya.

Akibat kesadaran obat generik hampir sama manjurnya dengan obat originatornya, peresepan obat generik di AS meningkat terus dari tahun ke tahun. Sejak tahun 1984 yang semula 19 persen, menjadi 57 persen pada tahun 2007. Namun, di Indonesia justru sebaliknya. Penggunaan obat generik di Indonesia sangat rendah. Padahal, sejak 1989 pemerintah mewajibkan penggunaan obat generik di seluruh pelayanan kesehatan. Kewajiban ini dipertegas dalam Peraturan Menkes RI No. HK 02.02/Menkes/068/1/2010 tanggal 14 januari 2010. Peraturan ini juga disertai Pedoman Pembinaan dan Pengawasannya serta sanksi adminstratif bagi pelanggar.

Jauh lebih murah

Jika di AS, harga obat generik hanya rata-rata 80-85 persen lebih rendah dibandingkan harga obat originator, di Indonesia sangat besar perbedaannya. Perbedaan harga yang cukup tinggi ini membuat seingkali obat generik hilang di pasaran.

Jika di ambil rata-rata harga obat generik yang ditetapkan pemerintah di bandingkan dengan harga obat originator rata-rata 1/20 kalinya. Lebih dari 80 jenis molekul zat aktif obat generik telah dibuktikan setara dengan obat originatornya. Dan dari segi GMP ( Good Manfacturing Practice ) atau satu set prinsip dan prosedur, yang diikuti oleh pabrik obat, memastikan bahwa  produk yang dibuat memiliki kualitas yang dibutuhkan, dan dapat diandalkan kualitasnya.

Di Indonesia, pada saat ini semua pabrik obat yang ada (20 PMA dan 176 PMDN) sudah mendapat sertifikat GMP, karena itu merupakan syarat untuk membuka pabrik obat sejak tahun 2002. Jadi masih ragu pakai obat generik?

Ingatkan selalu dokter untuk memakai obat generik saja. Obat Generik Adalah Hak Pasien Menurut dr. Marius Widjajarta, SE, UU No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen konsumen telah menguraikan apa yang menjadi hak-hak seorang pasien, antara lain:

  • Hak untuk informasi yang benar, jelas dan jujur.
  • Hak untuk jaminan kemanan dan keselamatan.
  • Hak untuk ganti rugi.
  • Hak untuk memilih.
  • Hak untuk didengar.
  • Hak untuk mendapatkan advokasi.
  • Hak-hak yang diatur oleh perundang-undangan.

Tidak tanggung-tanggung, jika melanggar maka sanksi yang menanti pun cukup berat. Pelanggar UU tersebut dapat dikenai denda maksimal 2 milyar dan kurungan maksimal 5 tahun. Pasien memiliki hak untuk memilih pengobatan. DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes mengatakan bahwa pasien pasien harus mengingatkan dokter untuk menuliskan resep obat generik.

Jadi tidak ada alasan terutama bagi konsumen yang berkantong tebal untuk ragu dan merasa ‘bersalah’ jika hendak memilih obat generik dengan alasan penghematan. Apalagi dalam kondisi bangsa saat ini yang sedang menderita kronis akibat permasalahan hukum, politik, ekonomi, dan keamanan, di mana diperlukan kecerdasan seorang konsumen dalam memilih pengobatan.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>