Ada banyak alasan remaja memilih kabur dari rumah. Padahal remaja umumnya masih menggantungkan diri pada orang tuanya,. Secara kasat mata, remaja tentunya masih membutuhkan dukungan finansial dari orangtuanya. Ia masih membutuhkan pakaian, tempat berlindung alias rumah. Uang untuk sekolah, pakaian dan sebagainya.
Namun bagaimana ketika remaja itu sudah mandiri secara finansial, sehingga bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Apakah remaja seperti itu lebih beresiko untuk lari dari rumah? Setiap individu tidak bisa disamakan, baik remaja yang punya kemandirian secara finansial atau tidak, seharusnya bukan hal mudah untuk kabur dari rumah. Karena sejatinya orangtua bukan hanya sebagai tempat untuk pemenuhan finansial saja.
Orang tua dan anak harus memiliki saling keterikatan. Tidak hanya pemenuhan kebutuhan finansial. Ketika remaja sudah mandiri secara finansial, misalnya menjadi penyanyi,, model, pemain sinetron, tetap tidak mudah bagi anak untuk sepenuhnya lepas dari orangtua. Jika remaja memandang orangtua hanya sebagai tempat pemenuhan kebutuhan finansial saja, berarti ada yang salah dalam pola asuhnya.
Anak yang kabur dari rumah biasanya lari dari masalah. Karena tidak bisa menyelesaikan masalah itu, terutama menyangkut persepsi yang tidak sama. Ada juga yang sudah merasa berusaha untuk menyelesaikan masalahnya namun tidak berhasil dan tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih tidak mendapat dukungan dari anggota keluarga di rumah tersebut.
Kekuatan orangtua ke anak tidak hanya ditekankan pada finansial, misalnya untuk memenuhi kebutuhan pakaian dan makanan saja. Ada hal-hal lain yang dibutuhkan, seperti memberi dukungan.
Pemberian dukungan, suasana rumah yang nyaman, dan komunikasi yang lancar antar orangtua dan anak, akan membuat anak kerasan dan tidak gampang lari dari rumah. Anak selalu tetap rindu rumah dan orangtuanya, walaupun secara finansial ia sudah mampu menghidupi diri sendiri.
Disiplin dan komunikasi
Selain mengajarkan disiplin, mendiskusikan dulu dalam membuat aturan juga mengajarkan untuk saling berkomunikasi antara anak dan orangtua.
Menerapkan disiplin tidak hanya berlaku pada remaja saja. Tapi sejak kecil sudah harus dibiasakan. Semakin dini tentunya semakin baik. Waktu masa balita atau SD, orangtua mendiamkan saja dengan alasan masih kecil. Ketika masuk remaja baru keras dalam disiplin, bisa bentrok. Karena disiplin harus diajarkan sejak kecil.
Mengajarkan displin bisa dimulai ketika orang tua membatasi waktu menonton TV, kapan bermain, dan kapan belajar. Lebih baik aturan itu dibuat dengan melakukan dialog atau diskusi dengan anak, agar anak bertanggungjawab akan aturan yang sudah didiskusikan itu. Misalnya ada aturan pembatasan menonton TV. Jam berapa saja anak-anak bisa meonoton TV. Diskusikan mengapa pada jam itu saja boleh menonton TV.
Jika anak menolak, orang tua harus mendengarkan pendapatnya, mengapa anak menolak. Harus dicari titik temu antara orangtua dan anak untuk membuat aturan yang bisa diterima kedua belah pihak.
Selain mengajarkan disiplin, mendiskusikan dulu dalam membuat aturan juga mengajarkan untuk saling berkomunikasi antar anak dan orangtua. Kalau sudah terbiasa kompromi dengan orangtua, saat remaja tidak terlalu sulit lagi.

